Selamat datang di Website SMK Negeri 1 Jepara

Motivasi Dalam Pembelajaran Bahasa Asing (Perancis)

Motivasi Dalam Pembelajaran Bahasa Asing (Perancis)

BY. SITI SUKARTINI

 

Abstract. Ketika berbicara tentang motivasi dalam pembelajaran bahasa asing, banyak orang yang mengasosiasikannya dengan Gardner (1972). Hal ini dapat difahami karena teori Gardner  tentang motivasi memang cukup berpengaruh dalam kajian di bidang pengajaran bahasa asing. Meskipun demikian, teori Gardner bukan tanpa kritik. Para ahli di bidang pengajaan bahasa asing banyak yang mempersoalkan kategorisasi yang dibuat Gardner tentang motivasi integratif dan instrumental. Kritik terhadap Gardner tidak hanya sebatas kategorisasi motivasi yang dibuatnya, tetapi juga tesis Gardner yang menyatakan bahwa motivasi integratif lebih efektif dibandingkan dengan motivasi instrumental. Menurut beberapa pakar lain di bidang pengajaran bahasa asing, terdapat jenis motivasi lain yang relevan dengan pengajaran bahasa asing, dan motivasi integratif tidak selalu lebih efektif dibandingkan dengan motivasi instrumental.

 

 

Key words:

motivasi; pembelajaran; bahasa asing; teori

 

 

 

A.     INTRODUCTION

Menurut banyak pakar, motivasi adalah istilah yang paling sering dipakai untuk menjelaskan keberhasilan atau kegagalan hampir semua tugas yang rumit. Hampir semua pakar juga setuju bahwa suatu teori tentang motivasi berkenaan dengan faktor-faktor yang mendorong tingkah laku dan memberikan arah kepada tingkah laku itu, juga pada umumnya diterima bahwa motif seseorang untuk terlibat dalam satu kegiatan tertentu didasarkan atas kebutuhan yang mendasarinya. (Hamid, 1997: 97-98)

 

Dalam konteks pemerolehan dan pembelajaran bahasa kedua (asing), salah satu faktor yang diyakini membangun motivasi itu adalah sikap terhadap bahasa dan budaya dari masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. (Gardner, 1972: 132) Gagne (1998: 234) mengemukakan tiga aspek dari sikap sebagai berikut : 1) komponen kognitif, yang merujuk kepada keyakinan seseorang tentang suatu objek; 2) komponen afektif, yang merujuk ke jumlah perasaan positif atau negatif yang dipunyai seseorang terhadap objek tertentu; 3) komponen behavioral, yang merujuk kepada niat tingkah laku seseorang atau merujuk kepada tingkah laku aktual terhadap objek itu.

 

Dalam kajian awal tentang peran sikap dan motivasi belajar bahasa kedua, sikap dan motivasi biasanya disatukan ke dalam sejumlah faktor yang secara bersama bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan relatif dalam belajar bahasa kedua. Akan tetapi kemudian peranan yang menonjol dari sikap dan motivasi telah diredefinisi. Sekarang diargumentasikan bahwa sikap langsung berkaitan dengan motivasi, yang pada gilirannya berkaitan dengan belajar bahasa kedua. Dengan kata lain, sikap harus dipandang sebagai dukungan motivasional dan bukan sebagai faktor yang mempunyai pengaruh langsung terhadap belajar bahasa              kedua. Lebih jauh lagi, motivasi untuk belajar suatu bahasa tidak hanya ditentukan oleh sikap tetapi juga oleh alat motivasional lainnya seperti keinginan untuk menyenangkan guru dan orang tua, janji hadiah, atau pengalaman keberhasilan, dan lain sebagainya.

 

Teori tentang motivasi dalam pembelajaran bahasa kedua (asing) yang paling dikenal adalah teori yang dikembangkan oleh Gardner (1972). Walaupun teori Gardner cukup mendominasi teori tentang motivasi dalam pembelajaran bahasa asing, banyak pakar yang kemudian mengkritisi teori ini dan pada saat yang sama mengembangkan teori-teori lain tentang motivasi dalam pembelajaran bahasa asing. Artikel ini mencoba menyajikan teori Gardner, kemudian teori-teori lain yang dikembangkan oleh para ahli dalam pembelajaran bahasa. Selanjutnya, di bagian akhir artikel ini akan disajikan beberapa catata penutup.

 

B.     TEORI GARDNER

Kajian tentang motivasi dalam konteks pembelajaran dan pemerolehan bahasa kedua (asing) cukup lama didominasi oleh teori Gardner yang melihat motivasi dari dua kategori, yaitu motivasi integratif dan motivasi instrumental. Motivasi integratif mensyaratkan sikap positif dari siswa terhadap penutur bahasa sasaran dan budayanya. Adapun motivasi instrumental, yaitu perasaan pembelajar bahwa mereka perlu belajar bahasa sasaran untuk mendapatkan sesuatu yang penting

untuk kehidupannya, seperti pendidikan yang baik atau pekerjaan yang bisa menjamin masa depannya.

 

Salah satau temuan penting dari penelitian Gardner (1972: 132) adalah bahwa motivasi integratif mempunyai pengaruh yang besar dalam pemerolehan bahasa. Semakin tinggi kadar motivasi integratif seseorang, semakin baik pula penguasaan bahasa asingnya. Selain itu, siswa dengan motivasi integratif menunjukkan penguasaan bahasa yang lebih baik dibandingkan dengan yang bermotivasi instrumental. Siswa yang bermotivasi integratif cenderung menunjukkan sikap dan perilaku yang positif dan kondusif. Mereka biasanya lebih aktif di kelas, lebih antusias, suka bekerja keras, tidak mudah menyerah, dan tidak akan berhenti berusaha untuk menguasai bahasa asing tersebut. Sebaliknya siswa yang bermotivasi instrumental memperlihatkan ciri-ciri yang kurang mendukung proses belajar bahasa. Mereka memandang bahasa asing semata-mata hanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat praktis (misalnya untuk memperoleh pekerjaan yang baik), bukan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada budaya bangsa lain. Oleh sebab itu mereka cenderung untuk belajar “secukupnya”. Setelah kebutuhannya terpenuhi, minat atau semangat belajarnya menjadi pudar. Karena tidak terdorong untuk terus meningkatkan diri, penguasaan bahasanya menjadi sangat terbatas dan menunjukkan ciri-ciri umum yang dijumpai pada bahasa pidgin.

 

Pandangan Gardner bahwa motivasi integratif lebih berperan dalam pemerolehan bahasa dibandingkan dengan motivasi instrumental tampaknya cukup populer di kalangan linguis terapan akan tetapi banyak data empiris yang memperlihatkan hal yang berbeda. Sejumlah studi menunjukkan bahwa korelasi antara motivasi intergratif dan pemerolehan bahasa tidak selalu positif. Tidak jarang ditemukan korelasi non-signifikan, atau bahkan korelasi negatif. Au yang dikutip oleh Renandya (1997), misalnya menyebutkan bahwa dari 14 studi yang dilakukan Gardner dan rekannya di Kanada dari tahun  1959-1980, hasilnya adalah tiga

positif, empat negatif, sedang tujuh sisanya tidak jelas. Beberapa hasil penelitian dalam konteks ESL juga menunjukkan bahwa motivasi integratif tidak selalu mempunyai pengaruh positif. Studi kasus oleh Schmidt yang juga dikutip oleh Renandya (1997) menunjukkan bahwa meskipun Wes (orang Jepang yang menjadi subjek penelitiannya) dinilai memiliki sikap positif dan integratif terhadap budaya Amerika, kemampuan bahasa Inggrisnya tidak terlalu menonjol. Dari segi penguasaan tata bahasa (linguistic competence), kemampuan Wes boleh dikatakan sangat terbatas meskipun ia telah cukup lama menetap di Hawai.

 

Pendapat Gardner yang mengatakan bahwa motivasi integratif lebih penting dari motivasi instrumental juga tidak selalu benar. Beberapa hasil penelitian di luar Kanada membuktikan bahwa motivasi instrumental lebih unggul daripada  motivasi integratif. Penelitian yang dilakukan di Filipina menunjukkan bahwa instrumental motivation bisa berperan jauh lebih baik dibanding integrative motivation. Di Filipina, Amerika agak tidak populer dan bila belajar bahasa Inggris tergantung seluruhnya kepada integrative motivation sedikit kesempatan bagi siswa untuk mendapatkan kemajuan. Untungnya instrumental motivation memiliki peran yang cukup kuat. Penelitian yang dilakukan oleh Caroll menyimpulkan, apakah sesorang menyukai bahasa asing yang mereka pelajari atau tidak, tidak berhubungan secara signifikan dengan prestasi yang mereka capai dalam pembelajaran bahasa asing. (Snow, 1998: 32) Ini artinya sikap positif terhadap bahasa sasaran tidak mutlak diperlukan untuk seseorang berhasil dalam pembelajaran dan pemerolehan bahasa asing.

 

Bahwa motivasi instrumental tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan motivasi integratif dapat dilihat dari hasil survey Ridwan, Renandya dan Lie yang dikutip oleh Renandya . (1997: 226) Dalam menjawab pertanyaan “apa manfaat belajar bahasa Asing ?”, sejumlah besar responden menjawab bahwa kemampuan bahasa Asing diperlukan untuk hal-hal yang masuk dalam kategori instrumental: prospek pekerjaan yang lebih baik (88%), studi di perguruan tinggi (67%), dan

memperoleh imformasi mutakhir (59%). Jawaban responden yang berkaitan dengan kategori integratif jauh di bawah 50%.

 

C.     TEORI LAIN

Selain motivasi integratif dan instrumental, Dulay, Burt, dan Krashen (1982: 50) mengemukakan jenis motivasi lain yang disebutnya dengan identifikasi kelompok sosial (social group identification). Motivasi ini didefinisikan sebagai keinginan untuk memperoleh kemahiran sebuah bahasa atau ragam bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial yang oleh pembelajar ingin dijadikan sebagai identitas dirinya.

 

 

Dengan kata lain motivasi identifikasi kelompok sosial merujuk pada motivasi integratif, tetapi tidak sebaliknya. Motivasi identifikasi kelompok sosial secara khusus dapat diaplikasikan pada imigran atau migran yang menginginkan berasimilasi penuh dengan masyarakat di mana mereka bermigran, walaupun boleh jadi sebagian imigran atau migran hanya memiliki motivasi integratif atau instrumental.

 

Motivasi bisa dilihat juga pada dua kategori yaitu motivasi ekstrinsik dan intrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang diarahkan oleh minat dalam tugas itu sendiri, sedangkan motivasi ekstrinsik lebih diarahkan oleh rangsangan eksternal, seperti persetujuan orang tua, tawaran sebuah hadiah, ancaman hukuman, nilai yang baik dan sebagainya. (Brown, 2001: 76).

 

Hal ini mungkin menjadi kasus banyak pembelajar bahasa asing, tetapi hal ini tidak berarti bahwa pembelajar seperti itu tidak memiliki motivasi. Mereka bisa mendapatkan tugas- tugas dalam pembelajaran yang secara intrinsik memotivasi. Menurut pandangan ini, motivasi melibatkan rasa ingin tahu pada diri seseorang yang terus dipelihara konsistensinya. Karena rasa ingin tahu itu bisa pasang surut tergantung pada sejauh mana tugas-tugas pembelajaran itu sesuai dengan interst pembelajar yang bisa membuat mereka terlibat dalam berbagai aktivitas pembelajaan.

 

Menurut Brown (2001) kategori integratif dan instrumental lebih bersifat orientasi, bukan motivasi. Orientasi artinya konteks atau tujuan seseorang untuk belajar, sedangkan motivasi merujuk pada intensitas yang mendorong orang untuk belajar. Artinya, yang berorientasi integratif belajar bahasa untuk tujuan budaya, dan yang berorientasi instrumental belajar bahasa untuk karir atau tujuan akademis. Kedua orientasi ini bisa saja memiliki motivasi rendah atau tinggi.

 

Boleh jadi seseorang yang belajar bahasa asing, seperti bahasa Perancis terdorong karena salah satu dari motivasi integratif atau instrumental atau identifikasi kelompok sosial, atau mungkin jenis motivasi lain seperti motivasi intrinsik, atau resultive motivation,. Tetapi, yang paling penting adalah bahwa orang tidak mungkin sukses belajar bahasa asing tanpa motivasi. Oleh sebab itu Archibald (1997: 497) mengatakan “... degree of motivation is a better predictor of future learning success than is type of motivation”. Meskipun demikian, jenis motivasi itu tetap penting, terutama untuk mengkaji berbagai hal yang memungkinkan bisa membangun motivasi seseorang. Kalau sikap dipandang       sebagai salah satu dukungan motivasional, maka dukungan motivasional lainnya seperti keinginan untuk menyenangkan guru dan orang tua, janji hadiah, atau pengalaman keberhasilan dan lain sebagainya juga bisa menjadi faktor motivasional lain terlepas kemudian motivasi itu masuk dalam kategori yang         mana.

 

Motivasi jelas merupakan fenomena yang kompleks.  Jenis-jenis motivasi itu harus dilihat sebagai yang saling melengkapi, bukan hal yang berbeda dan saling bertentangan. Pembelajar boleh jadi memiliki secara bersamaan motivasi integratif dan instrumental; motivasi bisa dipengaruhi oleh akitivitas pembelajaran atau sebaliknya, motivasi memberi pengaruh terhadap pembelajaran. Selain itu motivasi itu secara alamiah dinamis, bukan sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki oleh siswa tetapi lebih sebagai sesuatu yang bisa berubah-ubah dari waktu ke waktu tergantung pada konteks dan aktivitas pembelajaran.

 

D.     CATATAN PENUTUP

Kajian teoritis tentang motivasi dalam pembelajaran bahasa asing penting bagi semua pihak yang bertanggung jawab terhadap program pembelajaran bahasa asing seperti bahasa Perancis. Mulai dari pembuat kebijakan tentang pembelajaran bahasa Perancis sampai kepada guru bahasa Perancis di sekolah sejatinya memahami             teori-teori tentang motivasi dalam pembelajaran bahasa asing. Dengan demikian, berbagai kebijakan tentang pembelajaran bahasa Perancis ketika diimplementasikan mampu menjadi program-program yang memotivasi. Selanjutnya, dengan pemahaman yang baik terhadap teori-teori tentang motivasi dalam pembelajaran bahasa Perancis, guru-guru bahasa Perancis di sekolah-sekolah pun senantiasa berupaya membangun aktivitas pembelajaran bahasa Perancis di kelas yang dapat membangkitkan motivasi siswa.

 

Untuk konteks Indonesia, hal ini masih merupakan sebuah tantangan yang tidak ringan. Berbagai kebijakan tentang bahasa Perancis di sekolah, walupun telah ada upaya merespons kelemahan-kelemahan yang ada, masih belum mampu menjadi program yang memotivasi. Kebijakan tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) misalnya, yang dimaksudkan agar sekolah-sekolah mampu mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi sekolah sehinga bisa memproduk kurikulum yang lebih memotivasi siswa masih terkendala banyak hal. Dengan berbagai kelemahan LPTK penghasil guru dan rekrutmen guru yang sarat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme juga tidak bisa diharapkan terjaring guru- guru bahasa Perancis yang qualified. Dalam kondisi seperti ini banyak guru bahasa Perancis yang tidak mampu membangun aktivitas pembelajaran bahasa Perancis yang mampu membangkitkan motivasi siswa.

 

Akhirnya, pemahaman terhadap teori-teori tentang motivasi dalam pembelajaran bahasa asing sesungguhnya hanya satu dari banyak hal yang harus dpertimbangkan dalam membangun program pembelajaran bahasa Perancis yang mampu membangkitkan motivasi pembelajar bahasa Perancis di Indonesia. Begitu banyak hal lain yang juga harus dipertimbangkan. Yang pasti tidak ada sebuah tugas rumit termasuk pembelajaran bahasa Perancis  yang bisa sukses tanpa motivasi.

 

E.     REFERENCES

Brown H. Douglas, 2001. “Intrinsic Motivation in The Classroom”. Teaching By Principles, an integrative approach to language pedagogy, 2nd edition, San Fransisco: Perason Education

 

 Gagne, Robert M. 1998. The condition of Learning, USA: Holt, Rinehart and Winston

 

Gardner R.C., W Lambert. 1972. Attitude and Motivation in second language learning . MA: Newbury House

 

Hamid, Fuada Abdul. 1997.     Proses Belajar Mengajar Bahasa. Jakarta: Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek Mengembangkan LPTK

 

07:34:42 WIB

20 Agustus 2022

Di posting oleh AdminSkul